UMMAT YANG DAMAI, PRESIDEN YANG PENAKUT!
[portalpiyungan.co] Presiden tersentak! Kapolri dan seluruh jajaran kabinet Jokowi pun kaget. Ahok dan para pendukungnya pun gemetar. Dunia bersaksi. Tak ada seorang pun yang menyangka bahwa peserta Aksi 411 akan sebanyak itu. Bayangkan, dua juta lebih manusia tumpah ruah turun ke jalan pada waktu yang sama di tempat yang sama.
Banyak orang yang menyebut, ini adalah aksi terbesar sejak Indonesia ada. Gelombang manusia pada tanggal 4 November 2016 yang lalu, jauh melampaui unjuk rasa tahun 1998 yang akhirnya memaksa Presiden Soeharto meletakkan jabatannya. Bahkan, di dunia sekalipun, belum pernah ada kumpulan massa sebanyak itu.
Pemodal besar, mafia tengik dan atau cukong kelas paus sekalipun dengan segala sumber daya uang dan premannya, tak akan pernah bisa mengumpulkan manusia sebanyak itu. Itu karena tidak semua orang bisa dibeli. Tidak semua orang bisa ditakut-takuti dan tidak semua orang bisa dipecundangi.
Lantas kekuatan apa gerangan yang mengumpulkan manusia sebanyak itu? Panggilan seperti apa yang seruannya bisa disambut dengan gemuruh seperti itu? Tokoh macam apa gerangan yang sanggup menggerakan mereka, manusia dengan segala rupa, bermacam latar belakang, lintas daerah, antar etnik, berseberang lautan dan ragam strata sosial.
Tukang ojek, pedagang asongan, buruh kasar, pedagang pasar, pegawai, para medis, dokter, profesional, pengusaha, ibu rumah tangga, pelajar, mahasiswa, santri, ustadz, gus-gus, guru, kiai, anggota dewan hingga gubernur dan masih banyak lagi yang lainnya. Bahkan ada yang datang merangkak. Komunitas tuna netra juga banyak.
Itulah iman! Iman yang bersemayam di relung hati mereka. Kecintaan mereka terhadap kitab suci. Pembelaan mereka teehadapa Allah dan Rasul-Nya. Ghirah mereka terhadap Islam. Rasa inilah dulu membuat para Sahabat rela meninggalkan kampung halaman, berpisah dengan seluruh handai taulan, demi untuk menyertai Rasulullah hijrah ke Madinah. Rasa inilah yang menurut Aa Gym sulit dijelaskan. Rasa yang tiada padanan kata apapun untuk mengungkapkannya.
Dengan jumlah manusia sebanyak itu. Dalam tensi emosi yang sangat tinggi. Sebagiannya pun sudah pamit kepada keluarga, untuk (mungkin) tidak kembali pulang. Andai massa yang menyemut seperti itu dikomanda oleh pimpinan aksi untuk menduduki Istana dan gedung DPR/MPR, sungguh bukanlah sesuatu yang sulit. Sementara pasukan yang siaga hanyalah satu persen dari jumlah mereka. Kalau itu dilakukan. Jokowi akan jadi pecundang. Ahok beneran akan dicincang. Negara akan lumpuh. Orang-orang Cina akan sibuk cari selamat.
Tapi semua itu tidak dilakukan. Sebab niat mereka memang aksi damai. Mereka sekedar menagih janji Kabareskrim yang pada aksi pertama lalu telah berjanji akan mempercepat proses hukum Ahok. Mereka datang untuk menyoal komitmen Presiden. Namun, janji yang diucapakan tak jua tertunai. Mereka ingin bertemu Presiden, untuk menyampaikan tuntutannya. Namun Jokowi terlalu pengecut. Jokowi penakut, tak mau bertemu perwakilan pendemo!
(Ust. Abrar Rifai)
__
Sumber: fb
Mister Dewa
This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.
